HOME

Tuesday, August 22, 2017

SELEKSI KONSEP PRODUK

BAB V
SELEKSI KONSEP


5.1         Seleksi Konsep
Memilih atau menyeleksi konsep merupakan suatu proses evaluasi terhadap beberapa konsep yang ada yang berkenan dengan kriteria yang ditentukan dalam pemenuhan kebutuhan konsumen. Dalam pemilihan ini dilakukan pembandingan terhadap kekuatan dan kelemahan dari masing-masing konsep dan mengambil satu diantaranya yang dianggap layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Pemilihan konsep dilaksanakan tidak hanya selama pengembangan konsep, tapi melalui proses perancangan dan pengembangan berikutnya. Pemilihan konsep merupakan proses kelompok yang memudahkan pemilihan konsep dalam pemenang, membantu membangun kesepakatan tim dan membuat catatan dalam proses pengambilan keputusan.
Untuk mempermudah melakukan seleksi konsep maka sebaiknya seleksi konsep tersebut dilakukan secara terstruktur. Metode terstruktur memberikan beberapa keuntungan diantaranya: produk yang terfokus pada konsumen, rancangan yang kompetitif, koordinasi proses dan produk yang lebih baik, mengurangi waktu untuk perkenalan produk, pembuatan keputusan kelompok yang lebih efektif, dokumentasi proses keputusan. Metode dalam seleksi konsep terbagi menjadi beberapa metode, diantaranya:

5.1.1   Metode External decision
Metode External decisionadalah metode pemilihan konsep dengan mengembalikan kembali ke target pasar yang dituju.

5.1.2   Metode Product champion
Metode Product champion adalah Usulan pribadi dari seorang yang berpengaruh biasanya seorang direktur

5.1.3   Intuisi
Intuisi merupakan proses pemilihan konsep dimana faktor perasaan lebih berpengaruh

5.1.4   Multivoting
Multivoting merupakan setiap anggota tim memberikan hak pilih untuk beberapa konsep. Konsep yang banyak dipilih selanjutnya akan diseleksi.

5.1.5   Pro dan kontra
Pro dan Kontra adalah metode pemilihan konsep dengan melakukan analisa sisi positif dan negatif dari sebuah konsep

5.1.6   Prototipe dan Pengujian
Prototipe dan pengujian merupakan metode pemilihan konsep dengan membuat prototipe dan mengetesnya. Keputusan berdasarkan data pengujian.

5.1.7   Matriks keputusan
Metode matriks keputusan dilakukan dengan menilai konsep yang ada terhadap beberapa nilai yang telah diboboti.

5.2         Tahapan Seleksi Konsep
Baik penyaringan maupun penilaian konsep menggunakan matriks sebagai 6 (enam) tahapan proses pemilihan.

5.2.1   Menyiapkan Matriks Seleksi
Penyaringan konsep: Menyiapkan kriteria fisik yang dapat menerangkan setiap konsep dan disusun dalam suatu matriks. Kemudian, dengan pertimbangan mendalam, ditentukan concept yang ingin dijadikan sebagai patokan, dengan kriteria seleksi berdasarkan kebutuhan pelanggan dan perusahaan.Setelah itu juga ditentukan referensi untuk membandingkan dengan konsep lainnya. Referensi konsep ini bisa berupa produk terbaik, produk pesaing, atau konsep produk standar.
Penilaian konsep: Mempersiapkan dan membuat subkriteria dari kriteria yang sudah ada sehingga penilaian dilakukan lebih detil. Kemudian menambahkan bobot pada kriteria dan subkriteria tersebut. Dan konsep yang dinilai adalah konsep hasil pemilihan dari penyaringan konsep.

5.2.2   Menilai Konsep
Penyaringan konsep: Menilai konsep dilakukan dengan membandingkan konsep satu terhadap konsep yang lain dengan referensi nilai lebih baik daripada (better than) +, sama dengan (same as) 0, lebih buruk daripada (worse than) -.
Penilaian konsep: Memberi rate pada konsep skala interval digunakan, yaitu skala 1-5. pada konsep scoring, tidak digunakan concept referencekarena setiap konsep dinilai.

5.2.3   Mengurut Konsep
Penyaringan konsep: Menjumlahkan semua tanda skala relatif. Kemudian dari hasil penjumlahan itu, konsep dengan jumlah ”plus” terbanyak dan ”minus” terkecil diberi peringkat
Penilaian konsep: Mengkalikan bobot dengan skala yang diberikan. Dan penjumlahannya akan menentukan peringkat bagi setiap konsep.

5.2.4   Mengkombinasikan dan Memperbaiki Konsep
Penyaringan konsep: Meninjau hasil dan mempertimbangkan cara untuk mengkombinasikan dan memperbaiki konsep tertentu atau mengembangkan beberapa konsep yang dikombinasikan menjadi konsep baru yang kemudian dievaluasi kembali.
Penilaian konsep: Meninjau hasil dan mencoba kemungkinan kombinasi untuk meningkatkan kekurangan dari berbagai konsep menjadi konsep yang lebih baik.

5.2.5   Memilih Satu atau Lebih Konsep
Penyaringan konsep: Memilih konsep atau beberapa konsep untuk dikembangkan, diperbaiki dan dianalisis lebih lanjut, untuk memasuki tahap concept scoring.
Penilaian konsep: Menentukan konsep yang akan dilanjutkan ke pengembangan selanjutnya.

5.2.6   Merefleksikan Hasil dan Proses
Penyaringan dan penilaian konsep: Melakukan peninjauan kembali dari hasil konsep yang dipilih, setiap anggota tim harus menyenangi konsep yang dipilih oleh tim, kemudian diteliti kembali kriteria seleksi dan cara pemberian nilai.

5.3         Pemilihan Konsep Rancangan Produk
Proses pemilihan konsep dilakukan melalui dua tahap, yaitu: tahap penyaringan konsep (concept screening) dan tahap penilaian konsep (concept scooring). Concept screening adalah proses pemilihan konsep untuk mendapatkan beberapa alternatif yang diperkirakan dapat dikembangkan lebih lanjut. Dalam tahap ini beberapa konsep dievaluasi terhadap satu konsep yang telah dipilih sebagai acuan. Matriks penyaringan konsep dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Matriks Penyaringan Konsep
Kriteria Pemilihan

Konsep-konsep

A
B
C
D
Konsep 1 (Acuan)
Konsep 2
Konsep 3
Konsep 4
Mudah ditangani
0
-
0
-
Tahan lama
0
-
0
-
Mudah dibuat
0
-
0
-
Mudah dipindahkan
0
+
0
+
Gulungan Benang  Sutera mudah dilepas
0
0
+
+
Ringan
0
-
0
-
Dapat mengetahui jumlah gulungan benang sutera
0
0
0
0
Mudah dirawat
0
-
0
-
Tidak membahayakan
0
-
0
-
Jumlah ( + )
0
1
1
2
Jumlah ( 0 )
9
2
8
1
Jumlah ( - )
0
6
0
6
Total score
0
-5
1
-4
Rangking
2
4
1
3
Diteruskan ?
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Dari tabel 5.1 menyatakan bahwa konsep C menduduki rangking 1 dengan total score 1, sehingga konsep C layak untuk dikembangkan lebih lanjut.

Concept scooring digunakan untuk mempertegas perbedaan diantara konsep-konsep yang akan dibandingkan. Pada tahap ini dilakukan pembobotan pada tingkat kepentingan relatif dari kriteria pemilihan dan difokuskan pada pembandingan yang lebih teliti terhadap masing-masing kriteria. Pada tahap ini pula ditentukan skala rating yang akan dipakai dalam menentukan skor bobot dari masing-masing kriteria pemilihan. Skala rating ditentukan dari 1 sampai dengan 5 seperti pada tabel 5.2.

Tabel 5.2 Skala Rating
Relative performance
Rating


Sangat lebih jelek dari konsep acuan
1


Lebih jelek dari konsep acuan
2


Sama dengan konsep acuan
3


Lebih baik dari konsep acuan
4


Sangat lebih baik dari konsep acuan
5



Skor dari masing-masing konsep ditentukan dengan menjumlahkan masing-masing skor bobot dari tiap-tiap kriteria. Konsep yang mempunyai nilai skor yang tertinggi adalah konsep yang layak untuk diteruskan proses pengembangannya. Matrik penilaian konsep dapat dilihat pada Tabel 5.3.

Tabel 5.3 Matrik Penilaian Konsep
Kriteria Pemilihan
Bobot

Konsep-konsep


A

C
Konsep 1
Konsep 3
Rating
Nilai bobot
Rating
Nilai bobot
Mudah ditangani
12,5 %
3,0
0,375
3,0
0,375
Tahan lama
10,0 %
3,0
0,3
3,0
0,3
Mudah dibuat
7,5 %
3,0
0.225
2,0
0,15
Mudah dipindahkan
7,5 %
3,0
0.225
3,0
0.225
Gulungan benang sutera mudah dilepas
12,5 %
3,0
0,375
4,0
0,5
Ringan
12,5 %
3,0
0,375
3,0
0,375
Dapat mengetahui jumlah gulungan benang sutera
12,5 %
3,0
0,375
3,0
0,375
Mudah Dirawat
12,5 %
3,0
0,375
3,0
0,375
Tidak Membahayakan
12,5 %
3,0
0,375
3,0
0,375
Total Score

3,0

3,5
Rangking

2

1
Diteruskan?

Tidak

Ya

Dari tabel 3.9., konsep C merupakan konsep yang pengembanganya layak untuk dilanjutkan, hal ini mengingat bahwa konsep C lebih dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Dikatakan demikian karena gulungan benang pada kincir (reel) lebih mudah dilepas dibandingkan dengan konsep A.


No comments:

Post a Comment