HOME

Wednesday, August 23, 2017

PENGUJIAN KONSEP PRODUK

BAB VI
PENGUJIAN KONSEP


6.1         Pengujian Konsep
Pengujian konsep mengumpulkan respon langsung terhadap deskripsi konsep produk dari pelanggan potensial di dalam target pasar. Pengujian konsep berbeda dengan seleksi konsep dalam hal pengumpulan data secara langsung dari pelanggan dan lebih sedikit mengandalkan penilaian yang dibuat oleh tim pengembang. Pengujian konsep dapat menyakinkan bahwa kebutuhan pelanggan telah dipenuhi oleh konsep produk. Pengujian konsep juga dapat menilai potensi penjualan produk dan pengumpulan informasi dari pelanggan untuk perbaikan konsep produk. Pengujian konsep dianggap sesuai untuk beberapa kondisi pada proses pengembangan, jika pada saat mengindentifikasi peluang produk yang sebenarnya, ketika memilih dua atau lebih konsep produk yang akan diproses lebih lanjut, menilai potensi penjualan konsep produk, dan pada saat memutuskan apakah pengembangan produk akan dilanjutkan dan akan dikomersialkan. Metode pengujian konsep produk yang direkomendasikan terdiri dari 7 (tujuh) langkah yaitu:

6.1.1   Mendefinisikan Maksud dari Pengujian Konsep
Tahap pertama pada pengujian konsep, anggota tim secara eksplisit menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab melalui pengujian ini. Pengujian konsep pada dasarnya merupakan sebuah eksperimen. Mengetahui maksud eksperimen adalah penting untuk merancang metode eksperimen yang efektif.

6.1.2   Memilih Populasi Survei
Asumsi yang mendasari pengujian konsep adalah populasi pelanggan potensial yang disurvei mencerminkan target pasar dari sebuah produk. Jika populasi survei menunjukkan sikap antusias maupun kurang antusias terhadap produk dibandingkan target akhir dari produk, maka kesimpulan dari pengujian konsep akan menjadi bias. Karena itu tim harus memilih populasi survei yang mencerminkan target pasar yang sebenarnya.

6.1.3   Memilih Format Survei
Format survei yang biasa digunakan dalam pengujian konsep dapat berupa interaksi langsung (face to face interaction), telepon, lewat surat yang dikirimkan melalui jasa pos, surat elektronik (email) maupun internet.

6.1.4   Mengkomunikasikan Konsep
Pilihan format survei sangat berkaitan dengan bagaimana konsep akan dikomunikasikan. Konsep dapat dikomunikasikan dalam bentuk uraian verbal, sketsa, foto dan gambar, storyboard, video, simulasi, multimedia interaktif, model fisik maupun prototipe yang dioperasikan.

6.1.5   Mengukur Konsep Pelanggan
Sebagian survei pengujian konsep dimulai dengan mengkomunikasikan konsep produk dan kemudian mengukur respons pelanggan. Ketika pengujian konsep dilakuakan pada awal fase pengembangan konsep, respons pelanggan biasanya diukur dengan meminta pelanggan untuk memilih salah satu dari dua atau lebih konsep alternatif.

6.1.6   Menginterpretasikan Hasil
Jika tim tertarik untuk membandingkan dua atau lebih konsep, interpretasi hasilnya dapat dilakukan secara langsung. Apabila salah satu konsep mendominasi yang lain, dan tim percaya bahwa responden mengerti kunci perbedaan diantara konsep-konsep tersebut, maka tim dapat dengan mudah memilih konsep yang diinginkan. Jika hasilnya tidak terbatas, maka tim bisa memutuskan untuk memilih konsep berdasarkan biaya atau pertimbangan lain.

6.1.7   Merefleksikan Hasil dan Proses
Manfaat utama dari pengujian konsep adalah memperoleh umpan balik dari pelanggan potensial. Pandangan kualitatif yang dilakukan melalui suatu diskusi terbuka dengan responden tentang konsep-konsep yang diusulkan mungkin merupakan hasil yang paling penting dari pengujian konsep, terutama pada awal proses pengembangan. Tim harus merefleksikan hasil diskusi ini sama baiknya dengan hasil prediksi yang bersifat numerik.


6.2         Pengujian Konsep Rancangan
Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan teknologi dari alat puntir benang sutera. Untuk itu maka kegiatan yang dilakukan antara lain mendesain, membuat dan menguji coba prototipe alat puntir benang tersebut.
Pembuatan prototipe dilakukan di Bengkel Sardi yang beralamat di jalan Kemakmuran No. 34 Atapange-Majauleng, kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Pelaksanaan pengujian dilakukan di daerah petenun/perajin sutera desa Pakkanna kecamatan Tanasitolo, kabupaten Wajo, provinsi Sulawesi Selatan. Uji teknis dilakukan dengan menggunakan benang sutera Denier 28.

6.2.1   Pelaksanaan Pengujian
Uji teknis dilakukan tanggal 7 September 2006, modifikasi pada kincir (reel) penggulung benang tanggal 2 Oktober 2006, uji teknis dilakukan tanggal 9 Oktober 2006.

6.2.2   Alat/Bahan Yang Digunakan
Prototipe alat puntir benang sutera, alat puntir tradisional, stopwatch/jam, benang sutera Denier 28, timbangan.

6.2.3   Pengamatan
Kapasitas benang yang dihasilkan serta banyaknya gulungan benang yang sudah tergulung pada kincir (reel).

6.2.4   Proses Pengujian
Masing-masing pengujian dilakukan sebanyak 5 kali, baik untuk alat puntir tradisional maupun prototipe alat puntir benang sutera. Hasil pengujian dapat dilihat pada
Tabel 6.1 Hasil pengukuran waktu proses twisting dan re-reeling dengan cara tradisional untuk benang sutera Denier 28 dengan 1 orang tenaga kerja

No
Proses
Waktu pengujian (jam/kg benang)
Waktu
Total







proses
waktu


I
II
III
IV
V













1
Twisting
90′ 00″
84′ 00″
84′ 00″
78′ 00″
96′ 00″
432′ 00″
696′ 00″








2
Re-reeling
54′ 00″
54′ 00″
48′ 00″
48′ 00″
60′ 00″
264′ 00″











Tabel 6.2 Hasil pengukuran waktu proses twisting dan re-reeling dengan menggunakan prototipe alat puntir benang sutera untuk benang sutera Denier 28 dengan 1 orang tenaga kerja
No
Proses
Waktu pengujian (jam/kg benang)
Waktu Proses
Total Waktu
I
II
III
IV
V
1
Menggunakan Prototipe
10′ 10″
9′ 23″
9′ 41″
10′ 07″
9′ 35″
48′ 56″
48′ 56″

Tabel 6.3 Hasil pengamatan banyaknya gulungan benang yang sudah tergulung pada kincir (reel) dengan 1 orang tenaga kerja
No.
Proses
Pengamatan
Tingkat Ketelitian Pengamatan
1
Cara tradisional
Dihitung sendiri sambil
Kurang teliti


benang digulung

2
Menggunakan prototipe
Dilihat pada alat
Lebih teliti


penghitung gulung benang






6.2.5   Uji Kesinambungan

Setelah dilakukan uji kesinambungan dimana prototipe dioperasikan selama 8 jam berturut-turut, didapati kincir (reel) penggulung benang melengkung akibat daya cengkeram daripada benang yang sudah tergulung, hal ini dikarenakan ruji (spoke) kincir yang dipasang sedikit.

No comments:

Post a Comment